Tradisi Baritan, Menjadi Ritual Warga Blitar untuk Peringati Bulan Suro

- 28 Agustus 2020, 07:00 WIB
Tradisi Baritan Menjadi Ritual Warga Blitar untuk Peringati Bulan Suro
Tradisi Baritan Menjadi Ritual Warga Blitar untuk Peringati Bulan Suro /Dok. Pribadi

MEDIA BLITAR – Bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk yang masyarakatnya terdiri dari beraneka ragam suku bangsa. Masyarakat umumnya menjunjung tinggi tradisi yang telah berkembang turun menurun di lingkungannya atau daerahnya.

Tradisi yang dilakukan oleh masyarakat ini adalah untuk menolak ‘bala’ atau bencana alam, kematian, kelaparan, dan hal-hal lainnya yang mengancam kehidupannya. Hal ini akhirnya menimbulkan berbagai tradisi yang hingga kini masih tetap hidup (the living tradition). Salah satu tradisi tersebut adalah baritan.

Tradisi Baritan adalah upacara adat yang berkaitan dengan kepercayaan masyarakat dan peristiwa alam. Tradisi ini tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat dan sudah turun menurun hingga sekarang.

Baca Juga: Mengenal Belimbing Karangsari, Si Manis yang Jadi Maskot Kota Blitar

Seperti yang dilakukan masyarakat Kelurahan Blitar Kecamatan Sukorejo, Blitar menggelar tradisi baritan, Kamis 27 Agustus 2020.

Tradisi Baritan dilakukan dalam rangka memperingati Tahun Baru Hijriah dalam Islam, atau 1 Suro dalam bulan Jawa. Baritan digelar saat Suroan ini menyesuaikan hari nahas desa tersebut, misalnya hari ini yang bertepatan dengan Malam Jumat Legi.

Di Kelurahan Blitar, setiap lingkungan RT atau setiap warga yang masih satu jalan/gang menggelar ritual atau baritan sendiri-sendiri. Ritual di Blitar ini pelaksanaannya selalu di simpang empat atau simpang tiga jalan. Tikar digelar sepanjang jalan, menyesuaikan jumlah kepala keluarga (KK) yang hadir di ritual tersebut.

Baca Juga: 1 Suro, Tradisi Larung Sesaji di Pantai Serang Kabupaten Blitar Akan Tetap Digelar Secara Terbatas

Menjelang Magrib, sekitar pukul 17.00 WIB warga mulai berdatangan sambil membawa takir, yakni makanan tradisional yang diwadahi daun pisang yang dibentuk kotak persegi. Dan di setiap ujung takir ini diselipkan sepotong janur kuning yang ditancapkan tegak lurus.

Takir ini adalah simbol masyarakat yang memanjatkan doa harapan pada Tahun Baru Hijriah, serta adanya janur kuning ini menjadi wujud tunas baru (muda) dari pohon kelapa yang dijadikan sebagai simbol harapan baru dan kehidupan baru di tahun baru Islam bisa segera tercapai.

Tradisi Baritan Menjadi Ritual Warga Blitar untuk Peringati Bulan Suro
Tradisi Baritan Menjadi Ritual Warga Blitar untuk Peringati Bulan Suro Dok. Pribadi

Jumlah takir yang dibawa saat baritan ini menyesuaikan jumlah anggota keluarga. Jika di dalam rumah itu ada empat orang, maka takir yang dibawa baritan juga empat takir. Takir kemudian ditata berjajar di atas tikar yang telah digelar di jalan.

Saat semua hadir dan duduk bersila, takir tertata rapi, lantunan doa mulai dipanjatkan. Doa dipimpin tokoh masyarakat setempat. Doa dilantunkan dengan 2 cara, yakni secara islam menggunakan bahasa arab dan yang kedua, doa dilantunkan dengan bahasa Jawa.

Kemudian dilanjutkan dengan tahlil dan diakhiri dengan doa keselamatan dan kesejahteraan untuk semua warga.

Baca Juga: Eksotis, Inilah 5 Pantai di Blitar yang Wajib Dikunjungi Saat Akhir Pekan

Setelah itu, takir yang dibawa ini ditukar-tukar dengan milik warga yang lain sesuai dengan jumlahnya. Lalu setelah itu, biasanya takir dimakan bersama-sama dilokasi dan ada juga yang dibawa pulang, namun karena masih dalam kondisi pandemi covid-19, takir dibawa pulang dan dimakan bersama–sama oleh keluarga masing-masing dirumah.

***

Editor: Ninditoo


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah